Solusi Mengatasi Bencana Alam Teknologi Masih Dipandang Sebelah Mata

Posted by queenella536 in lingkungan on September 24th, 2010 |  No Comments »

Solusi Mengatasi Bencana Alam
Teknologi Masih Dipandang Sebelah Mata


SH/Edy Wahyudei
TERGENANG AIR – Sepanjang ruas jalan Kapten Tendean Jakarta Selatan, Kamis (19/2) tergenang air hingga ketinggian 80 cm. Daerah itu merupakan salah satu daerah langganan banjir di Jakarta.

JAKARTA – Dari tahun ke tahun, banjir dan longsor selalu mengintai. Sebenarnya ada teknologi yang bisa mengatasi. Sayang, masih dianggap sebagai pemborosan dan dipandang sebelah mata.

Musim penghujan selalu ditandai dengan berbagai bencana alam. Banjir sudah dirasakan sebagian warga Jakarta. Di Jawa Barat, tanah longsor mulai mengintai. Fakta seperti itu sepertinya selalu saja terulang dari tahun ke tahun tanpa ada solusi pasti. Apa pasal? Dari pengalaman yang sudah-sudah terkesan pemerintah tak pernah sigap menangani banjir dan tanah longsor. Semua dianggap sebagai peristiwa alam biasa.
”Kalau bencana itu terulang kembali, mereka seolah tak peduli. Banjir tetap dianggap sebagai sesuatu yang rutin,” ujar Ir. Baginda Patar Sitorus, peneliti dari Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kepada pers di Jakarta, belum lama ini.
Berdasar analisis, Baginda menyebutkan ada beberapa faktor yang membuat banjir tak bisa diantisipasi atau diatasi dengan benar. Beberapa hal mendasar yang bisa dikaitkan dengan pencegahan banjir masih belum jua bisa diketahui. Seperti misalnya berapa sesungguhnya daya tampung permukaan wilayah rawan banjir. Atau berapa kapasitas saluran.
Secara teori syarat agar tidak terjadi banjir adalah dengan membuat agar air yang masuk ke suatu lokasi harus lebih kecil dari yang keluar. Tapi masalahnya, belum ada satu instansi pun yang mencoba mencari tahu hal tersebut. Lebih jauh Baginda memaparkan bahwa agar banjir tidak terjadi, ada rumusan Qin<Qout+Qres. Qin adalah air masuk, Qout adalah air keluar dan Qres adalah daya tampung. Qin dihitung dalam per satuan waktu. Dikaitkan dengan banjir Jakarta maka yang harus diketahui adalah Qin sebagai air hujan dari hulu dan hilir Jakarta dan air pasang yang sama-sama tidak diketahui angkanya. Tapi Qin lain, yakni air buangan dari industri dan air mandi cuci kakus (MCK) penduduk Jakarta dapat diukur dan dihitung.
Sedangkan Qout yang juga dihitung dengan per satuan waktu mencakup kapasitas seluruh sungai yang semestinya bisa diketahui angkanya. Dan terakhir Qres yakni daya serap permukaan bisa pula dihitung dan diukur. Namun sampai sekarang kelima faktor tadi sama sekali tidak diketahui angkanya dan pemerintah daerah (Pemda) DKI Jakarta sendiri tidak pernah mengadakan pengukuran. ”Padahal kalau hal ini diketahui bermanfaat untuk early warning atau peringatan dini,” tegas Baginda.

Masalah Dana
Peringatan dini memang bukan solusi akhir, tapi setidaknya bisa mencegah korban jatuh lebih banyak. Selain peringatan dini, ada lagi solusi lain yang bisa dilakukan, yaitu teknologi modifikasi cuaca (TMC). Teknologi yang sempat diujicoba tahun 2002 di DKI Jakarta ini berhasil mengurangi intensitas banjir. Sayang tak ada kelanjutannya dengan alasan Pemda DKI tak punya anggaran cukup. Baginda mengakui bahwa pengoperasian TMC cukup mahal. Dalam kurun waktu 10 hari membutuhkan dana sebesar Rp 1 miliar. Sesungguhnya biaya ini tidak sebanding dengan kerugian yang diderita warga Jakarta akibat banjir yang memakan ratusan miliar. TMC sendiri sudah dikenal puluhan tahun silam di negara maju dan banyak dipakai sebagai pengendali banjir maupun kekeringan.
Di Indonesia, hujan buatan tersebut sempat dipakai pada 2001 untuk mengisi waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur yang kekeringan. Tim UPT Hujan Buatan yang dipimpin Baginda berhasil menghasilkan 874,1 juta meter kubuk air yang mengaliri sawah seluas 296.000 hektar untuk dua kali tanam. Masih tahun yang sama, mereka menerapkan TMC di Kalimantan untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran bisa dipadamkan setelah TMC dilakukan selama 10 hari berturut-turut.
Kinerja TMC sederhana saja, yanki membantu pertumbuhan awan, mempercepat turun hujan dan membuyarkan awan. Teknik tersebut didasarkan pada kaidah ilmiah seperti penerapan konsep sistem dan lingkungan serta hukum kekekalan energi. Metodenya ada dua cara, secara dinamis atau statis. Cara dinamis bisa dilakukan dengan pesawat terbang terutama dalam misi membantu pertumbuhan awan, mempercepat turun hujan dan membuyarkan awan di daerah target.
Metode statis dilakukan dengan menggunakan kamera Ground Base Generator (GBG) dengan bahan semai partikel yang ditempatkan di lereng-lereng pegunungan untuk misi mempercepat turun hujan pada awan-awan orogafik yang berpotensi hujan. Metode ini biasanya dipakai dalam rangka penerapan TMC untuk mengantisipasi tanah longsor dan banjir. Kedua metode tadi sama-sama menggunakan bahan semai serbuk garam (NaCl), serbuk kapur tohor (CaO), serbuk Ca (OH)2 dan partikel Carbon Black.
Saat ini GBG sudah didirikan di empat lokasi, Desa Kuta di Cikopo Gunung Mas, Desa Citeko di Cikopo Selatan, Desa Tugu di Cikopo Selatan serta Desa Hambalang di Ceteureup Bogor. Rencananya BPPT akan mendirikan enam lagi GBG demi mengurangi potensi banjir. Kalau tak ada aral melintang tahun 2006 sudah selesai dibangun enam lagi GBG. Menurut Baginda pembangunan GBG tersebut bisa sangat berarti untuk mengurangi banjir Jakarta. Ini disebabkan daerah hulu Ciliwung mempunyai kontribusi pemicu banjir sebesar 30 persen. Dengan mengurangi sebesar itu saja maka sudah amat berarti bagi warga Jakarta.

Tanah Longsor
Selain banjir, TMC otomatis juga mengatasi bencana tanah longsor yang selalu mengiringi musim hujan. Ir.Heru Sri Naryanto, Kepala Bidang Teknologi Mitigasi Bencana Deputi Teknologi Pengembangan SumberDaya Alam BPPT menjelaskan bahwa saah satu faktor pemicu tanah longsor adalah air. Curah hujan tinggi dan berlangsung lama menyebabkan tekanan pori tanah bertambah sehingga kekuatan geser menurun. ”Kandungan air tanah akan naik sehingga terjadi pengembangan tanah. Di samping itu genangan air, rembesan air dan penurunan air tanah secara cepat juga mengakibatkan erosi,” ujar Heru.
Pada dasarnya di Indonesia banyak sekali kawasan yang rawan longsor. Maka jangan heran kalau setiap musim hujan selalu datang bencana tanah longsor. Heru menuturkan ini disebabkan faktor geologi yang mencakup morfologi, struktur geologi, sifat bawaan batuan, pelarutan batuan dan gempa bumi yang memang kerap terjadi. Faktor lain adalah kegiatan manusia seperti penggalian, penambahan beban dan getaran. Daerah Jawa Barat yang dikenal memiliki curah hujan tinggi dan terdapat banyak lereng bisa dikatakan sebagai daerah rawan longsor yang harus diwaspadai.
Metode penegahan tanah longsor ini juga sudah dimiliki oleh tim peneliti yang dipimpin Heru. Salah satunya dengan mengarahkan limpasan air hujan dari atas lereng menjauh dari bagian lereng yang rawan longsor. Setelah itu dilakukan penancapan pipa-pipa atau bambu yang dilubangi kedua ujungnya sejajar sisi lereng untuk menguras air yang sudah terlanjur terjebak di dalam lereng. Apabila sudah mulai muncul retakan tanah yang memanjang sejajar sisi lereng, segera sumbat tanah retak tersebut dengan bahan kedap air atau tanah lembung agar air hujan tidak meresap ke dalam retakan. Kalau retakan tanah semakin cepat berkembang, kosongkan segera lereng agar tidak ada pemukiman dan aktivitas manusia. Retakan tanah ini adalah indikator kritis tanah sudah siap untuk meluncur ke bawah lereng. Kemudian kosongkan segera kilam atau selokan yang mengalir di daerah retakan. Terakhir perbaiki drainase untuk mengurangi peresapan air hujan ke dalam retakan.(SH/merry magdalena)

it’s me

Posted by queenella536 in hobby on September 22nd, 2010 |  No Comments »

”TIDAK ADA YANG BISA DI TAMPILKAN”

silahkan sebutkan password anda!!!!

Hello world!

Posted by queenella536 in Uncategorized on September 22nd, 2010 |  1 Comment »

Welcome to Student Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!